Kamis, 12 Juli 2012

METODE PENGOLAHAN LAHAN YANG TEPAT SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT AKAR BLAST PADA TANAMAN KELAPA SAWIT


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengembangan kelapa sawit (oil palm) dan minyak kelapa sawit (crude palm oil–CPO) di Indonesia dan Malaysia telah mampu merubah peta perminyakan nabati dunia dalam waktu singkat. Pada tahun 1985, produksi minyak sawit Indonesia baru mencapai 1.3 juta ton. Namun, pada tahun 2006 telah mencapai 14.7 juta ton CPO, dan pada tahun 2007 produksi CPO Indonesia telah melampaui total produksi CPO Malaysia. Saat ini Indonesia dan Malaysia menghasilkan 83% dari total produksi minyak kelapa sawit dunia dan menguasai 89% ekspor global. Permintaan minyak kelapa sawit dunia terus mengalami peningkatan.  Tingginya permintaan minyak kelapa sawit ini terjadi karena banyaknya produk yang dihasilkan dengan menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit. Sampai saat ini kelapa sawit masih menjadi sektor industri perkebunan utama di Indonesia, namun seiring dengan semakin maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak sedikit pula penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit itu sendiri. Hal tersebut menyebabkan terganggunya sistem pertumbuhan dan perkembangan pada kelapa sawit yang berimbas pada potensi kerugian berupa penurunan kualitas dan kuantitas hasil serta penambahan biaya perawatan, sehingga mengurangi keuntungan hasil produksi yang seharusnya dihasilkan.
Diantara beberapa penyakit yang menyerang kelapa sawit, penyakit blas merupakan penyakit akar yang membahayakan karena membuat pertumbuhan tanaman kelapa sawit menjadi tidak normal. Hal tersebut mengakibatkan kualitas buah kelapa sawit yang dihasilkan tidak memuaskan. Untuk mengatasi penyakit akar tersebut diperlukan pengolahan lahan yang tepat dan irigasi yang cukup sehingga jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp yang merupakan penyebab penyakit blast tidak mudah menyerang akar tanaman kelapa sawit.  

Tujuan
Tujuan disusunnya paper ini adalah untuk mengetahui metode pengolahan lahan yang tepat untuk mencegah penyakit blast pada tanaman kelapa sawit.                            
  
PEMBAHASAN
Sebagaimana yang dibudidayakan, ada beberapa tahapan budidaya yaitu pembukaan lahan, pembibitan, membuat rancangan kebun, penanaman bibit kelapa sawit ke lapangan, penanaman tanaman penutup tanah dan pemeliharaan tanaman baik yang belum menghasilkan (TBM) dan tanaman yang sudah menghasilkan (TM). Sistem pembibitan untuk sekarang ini dilakukan dengan 2 cara yaitu pembibitan dengan dua tahap dan pembibitan dengan satu tahap. Pembibitan 2 tahap terdiri dari pembibitan awal (pre nursery) mulai dari perkecambahan sampai bibit berumur 2,5-3 bulan dan pembibitan utama (main nursery) setelah dipindahkan dari pembibitan awal sampai dipindahkan kelapangan dimana bibit berumur 10-12 bulan namun optimalnya pada umur 12-14 bulan. Sedangkan yang satu tahap mulai dari awal pembibitan sampai bibit bisa dipindahkan ke lapangan tetap pada tempat yang sama.
Pada pembibitan awal (pre nursery) bibit tanaman banyak yang terinfeksi oleh patogen. Salah satunya adalah jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp penyebab penyakit blas pada bibit kelapa sawit. Di Indonesia dan Malaysia penyakit ini meningkat meskipun tidak menimbulkan banyak kerugian. Penyakit ini juga banyak terdapat diberbagai Negara penghasil kelapa sawit seperti negara-negara di Afrika Barat dan Selatan.
Meskipun Phytium sp  dan Rhizoctonia sp adalah jamur tanah yang terdapat dimana-mana, namun penyakit hanya terjadi apabila tanah disekitar pembibitan menjadi kering dan panas. Sering kali penyakit justru semakin meningkat pada musim kemarau jika penyiraman persemaian kurang cukup. Apabila lengas tanah berada 10% dibawah kapasitas menahan air dan suhu tanah tinggi, keadaan seperti ini sangat optimal bagi serangan jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp dapat aktif dalam keadaan lingkungan yang sangat berbeda-beda (Sastroyono, 2003).
Penyakit blas ini berkembang pesat pada musim kemarau karena pada saat musim kemarau air tidak cukup tersedia bagi bibit dibandingkan dengan musim hujan. Sehingga jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp yang merupakan patogen dengan mudahnya menginfeksi bibit tanaman kelapa sawit. Gejala penyakit ini ditandai dengan daun bibit menjadi buram tidak mengkilat seperti biasanya, sedikit lemas, warnanya berubah dari hijau agak kecokelatan menjadi kuning cerah, dengan becak-becak jaringan mati (nekrotik) yang berwarna keunguan. Sedikit demi sedikit daun menjadi cokelat dan rapuh, seperti habis terjilat api (Blasted by Fire). Gejala mulai nampak pada daun tua, meskipun kadang-kadang pada waktu yang bersamaan pupus juga membusuk.
Gejala utama terdapat pada akar. Akar sakit terasa lunak jika dipegang. Jika dibelah akan kelihatan bahwa jaringan antara berkas pembuluh pusat dan hipodermis akan hancur sehingga stek berada lepas di dalam tabung hipodermis. Jika bibit dicabut, sisa hipodermis tertinggal dalam tanah. Blas disebabkan oleh gabungan dua macam jamur dalam tanah. Yaitu Phythium dan Rhizoctonia. Kedua jamur ini menginfeksi dengan cara yang berbeda, Phytium dapat langsung  menginfeksi melalui ujung-ujung akar. Rhizoctonia yang tidak mengadakan infeksi dengan menembus jaringan yang utuh, tapi masuk melalui ujung akar yang telah terinfeksi oleh Phytium sp, lalu menghancurkan jaringan kulit akar. Phytium sp menghasilkan toksin yang terangkut kedaun-daun yang yang antara lain menyebabkan timbulnya gejala pada daun.
Walaupun penyakit ini tidak tergolong penyakit penting pada bibit kelapa sawit tapi keberadaannya cukup menimbulkan kerugian yang cukup berarti sebesar 25%. Untuk itu penyakit ini perlu dikendalikan dengan penyiraman yang teratur minimal air yang ditambahkan kedalam polibag adalah 364 ml air yaitu kelembaban 50%. Penyakit Blas sering timbul di lapang pada bibit yang dipindah selama masa kering. Bibit yang kekurangan unsur hara akan lebih rentan terhadap penyakit ini. Sehingga pengolahan lahan tepat perlu dilakukan pada tahap persemaian. Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup, maka akar akan mudah menyerap unsur hara dan bibit akan tumbuh sehat. Selain itu pengairan yang cukup saat musim kemarau sangat diperlukan untuk mencegah munculnya penyakit blas (Semangun, 2000).
Setiap tanaman termasuk kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk dapat tumbuh dengan optimal baik pertumbuhan vegetatif maupun generatif. Pengetahuan terhadap faktor-faktor lingkungan yang optimum untuk mendukung pertumbuhan tanaman merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum melakukan langkah investasi di bidang  agibisnis. Syarat tumbuh untuk setiap tanaman termasuk kelapa sawit selalu terkait dengan dua aspek utama, yaitu iklim dan tanah. Bila kondisi iklim dan tanah sesuai yang dibutuhkan maka akan mengurangi resiko serangan penyakit pada kelapa sawit.
 Iklim yang sesuai untuk hidup kelapa sawit yaitu iklim tropika basah terutama pada kawasan khatulistiwa. Kelapa sawit merupakan tanaman tropis sehingga menghendaki temperatur yang hangat sepanjang tahun kisaran optimal 24 - 28°C, curah hujan rata-rata sekitar 2.500 mm/tahun, kelembaban udara 80%, dan penyinaran matahari 5 – 7 jan per hari. Dari beberapa parameter tersebut dapat diketahui bahwa Indonesia memenuhi semua aspek iklim yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit.
Syarat pertumbuhan berikutnya yaitu tanah. Kelapa sawit termasuk dalam sedikit kelompok spesies tanaman yang dapat dibudidayakan dengan baik di tanah mineral maupun di tanah gambut. Dengan demikian, spektrum jenis tanah yang sesuai untuk kelapa sawit cukup lebar dan dapat mencakup beragam jenis tanah. Meskipun demikian, faktor-faktor pembatas terkait dengan tanah tetap harus menjadi perhatian sebelum memutuskan investasi di bidang perkebunan kelapa sawit.
Pada tanah mineral, beberapa jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit diantaranya Ultisol, Inceptisol, Entisol, Andisol, maupun Oxisol. Meskipun demikian, identifikasi sifat fisik dan kimia tanah berikut karakteristik lahan tetap menjadi kunci utama sebelum memutuskan berinvestasi di bidang kelapa sawit pada jenis-jenis tanah tersebut. Beberapa sifat fisik tanah dan lahan yang perlu diperhatikan pada tanah mineral adalah solum yang tebal, dominan lempung, tekstur tanah yang optimal, aerasi dan drainase yang baik untuk menjamin respirasi akar, topografi yang tidak terlalu ekstrim. Untuk sifat kimia tanah, pH tanah dan ketersediaan hara merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya kelapa sawit. pH optimal untuk kelapa sawit adalah 5 – 5.5. Pada kisaran pH tersebut ketersediaan hara makro yang dibutuhkan tanaman seperti P, Ca, dan Mg tersedia dalam jumlah yang cukup.
Kondisi iklim dan tanah yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit belum sepenuhnya menjamin akan produksi kelapa sawit yang maksimal. Hal ini dikarenakan adanya beberapa penyakit yang bisa menyerang tanaman kelapa sawit, dan salah satu yang cukup berbahaya adalah penyakit blast pada akar kelapa sawit.
Baik pengolahan lahan maupun pengairan yang cukup merupakan dua upaya yang saling berkaitan. Pengolahan lahan bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus. Struktur tanah terbentuk berdasarkan tekstur yang terkandung dalam tanah. Tanah bertekstur pasir ini menyebabkan air susah tersimpan dalam tanah sehingga air mudah terdrainase sehingga tanaman kekurangan air tersedia. Menurut Supardi (1983), golongan pasir mengandung lebih dari 70% pisahan pasir. Sifat tanah semacam ini sangat lepas dan tidak lekat, sehingga sangat mudah melalukan air. Sedangkan tanah yang berstruktur halus atau liat mengandung lebihd ari 35% pisahan liat. Tanah bertekstur liat ini memudahkan air tersimpan dalam tanah sehingga mudah tergenang. Hal tersebut mengakibatkan pori dalam tanah penuh dengan air sehingga menghambat aliran udara dalam tanah. Tanah yang ideal untuk perkebunan kelapa sawit yaitu tanah dengan tekstur lempung. Lempung merupakan tanah yang mengandung kombinasi pasir, debu, dan liat yang memperlihatkan sifat-sifat yang ringan dan berat dalam perbandingan yang sama.
Pengolahan tanah merupakan langkah awal dalam persiapan lahan perkebunan kelapa sawit. Baik tanah mineral maupun tanah gambut atau tanah organik bisa digunakan untuk lahan perkebunan, tetapi dua jenis tanah tersebut berbeda cara pengolahannya karena sifat fisik dan kimia keduanya berbeda. Untuk tanah mineral, pengolahan tanah dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis. Cara manual hanya dapat dilaksanakan jika tenaga kerja banyak tersedia, serta keadaan topografi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan secara mekanis. Peralatan yang dipakai antara lai cangkul, sekop, dan parang. Persiapan lahan secara mekanis dapat dilaksanakan sebagai berikut :
-          Pembabatan dan pembakaran.
-          Pembajakan I, dan setelah 21 hari dilakukan pembajakan II.
-          Penggaruan I, dan setelah 21 hari dilakukan penggaruan II.
-          Interval pelaksanaan pembajakan maupun pengaruan adalah 21hari dengan arah pembajakan dan penggaruan membentuk sudut 45°. Ini bertujuan agar gulma dan alang-alang ikut diberantas sampai akar dan rimpang-rimpangnya.
Untuk tanah gambut, persiapan lahan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi setempat. Pola tata saluran air (drainase) harus diperhatikan. Ada dua sistem tata saluran air, yakni sistem tata saluran air tradisional dan sistem tata saluran air baru. Sistem tata saluran air tradisional terdiri atas empat jenis saluran yakni sungai, parit kongsi, parit induk, dan parit anakan yang dilengkapi dengan tangul pengaman air pasang dan pintu air yang disesuaikan dengan kebutuhan. Tujuan pembuatan saluran drainase adalah untuk menurunkan permukaan air tanah, sehingga akar tanaman kelapa sawit dapat berkembang dan menyerap nutrisi dengan baik.
Selain saluran drainase, sistem saluran irigasi yang menyuplai air bagi tanaman juga perlu diperhatikan tata letak dan kegunaannya. Hal ini dikarenakan ketersediaan air merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit. Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah. Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen minyak buah rendah.
Pembangunan jaringan irigasi dilakukan dengan memanfaatkan sumber air dari dam parit yang telah dibangun pada tahun sebelumnya dengan membangun jaringan irigasi tertutup sampai dengan bak pembagi. Pemberian irigasi suplementer dilakukan pada pada saat terjadi defisit air, maka dari bak pembagi dibuat jaringan irigasi tidak permanen dengan menggunakan selang. Untuk mengairi areal pertanaman yang posisinya terletak lebih tinggi digunakan pompa untuk mengangkat air sampai bak pembagi kemudian dilanjutkan dengan sistem gravitasi. Sedangkan untuk irigasi pertanaman kelapa sawit yang posisinya lebih rendah dari sumber air maka distribusi air sampai dengan bak pembagi maupun ke pertanaman dilakukan dengan sistem gravitasi.
Dengan irigasi yang baik maka kondisi tanah akan terjaga kelembabannya dan kebutuhan tanaman akan air bisa tercukupi. Jika kandungan air di dalam tanah rendah (kering) maka pH tanah akan turun dan kandungan unsur hara didalam tanah akan ikut menurun dan sipat ketahanan bibit tanaman akan menurun sehingga memudahkan bagi kedua jamur penyakit blast Phytium sp dan Rhizoctonia sp ini melakukan infeksi. Selain itu bibit tanaman akan merana dan lama kelamaan tanaman akan terhenti pertumbuhannya dan mati.
Pengendaliannya dengan mengusahakan agar tanah dalam kantong plastik di pembibitan tidak menjadi kering dan panas. Pembibitan dibuat di tempat yang mempunyai air yang cukup. Bibit disiram dengaan irigasi curah yang airnya dapat mencapai semua bibit. Penyiraman yang cukup sekaligus akan menghindarkan kekeringan dan meningkatnya suhu tanah. Untuk pengisi kantong plastik jangan dipakai tanah yang mudah kering. Pra pembibitan, jika diperlukan, diberi peteduh yang cukup. Penyiraman disini dilakukan dengan menyemperot secara hati-hati. Mengusahakan agar bibit di pembibitan tumbuh dengan baik agar menjadi lebih tahan terhadap penyakit Blas. Jika mungkin, diusahakan agar pada waktu musim kering tiba bibit sudah melewati masa rentannya (umur 6-8 bulan). Jangan memindahkan bibit ke lapang jika keadaan sangat kering. Kecuali jika terdapat cukup air yang dapat diangkut ke lapang untuk menyiramnya.
                                     
  
KESIMPULAN

1.      Gejala yang ditimbulkan dari serangan jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp daun berubah warna dari warna hijau kecoklatan dan menyebar keseluruh permukaan daun dan ada yang kecoklatan menjadi kuning cerah dengan bercak-bercak jaringan mati.
2.      Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit blas yaitu dengan pengolahan lahan dan mempertahankan kelembaban tanah dengan sistem irigasi.
  
DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2011. Mengenal Penyakit Kelapa Sawit. http://tribunnews.com (4 April 2012)

Anonim. 2006. Potensi dan Peluang Investasi dan Industri Kelapa Sawit di Indonesia. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

Anonim. 2007. Pengelolaan Air untuk Ketersediaan Air Tanaman Kelapa Sawit. Bogor: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.

Mangoensoekarjo, S. 2007. Manajemen Tanah dan Pemupukan Budidaya Perkebunan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sastrosayono, S. 2003. Budi Daya Kelapa Sawit. Penerbit: Agromedia Pustaka. Jakarta.

Sanchez, P. 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Bandung: Penerbit ITB.

Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press.

Susanto, A. 2005. Pemeliharaan Kesehatan Kelapa Sawit Melalui Pengendalian Terkini Hama dan Penyakit. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.

JERITAN KELAPARAN DARI SEBUAH NEGARA AGRARIS


Merupakan sebuah ironi klasik bila mengingat predikat Indonesia sebagai negara agraris namun pengimpor beras dan bahan pangan lainnya. Jadi dimanakah letak ke’agraris’an kita selama ini? Apakah hanya diukur dari luasnya lahan pertanian yang membentang dari Sabang sampai Merauke saja? Walaupun kita tahu bahwa lahan-lahan tersebut banyak sudah yang bermetamorfosa menjadi gedung-gedung yang dibangun atas kepentingan beberapa pihak semata. Lalu bagaimana dengan anugerah Tuhan yang luar biasa besar yaitu sinar matahari yang bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma setiap harinya? Walaupun kita sadar bahwa kita lebih sering mengeluhkan panasnya sang surya tersebut.
Dengan berbagai kemudahan yang diberikan Tuhan bagi kita, mungkin kita masih belum bisa memanfaatkan berbagai kemudahan tersebut dengan bijak dan optimal. Indonesia patut bersyukur dengan kayanya lahan subur nan produktif yang dimiliknya serta dengan musim yang hanya berganti dua kali setiap tahunnya. Seharusnya Indonesia bisa menjadi negara terkuat di dunia dalam hal penyediaan pangan terhadap rakyatnya. Namun kita tahu bahwa tidak sedikit masyarakat di negara ini kekurangan pangan dengan alasan yang sangat umum yaitu terlampau mahalnya bahan pangan yang melebihi pendapatan mereka sehari-hari. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang menderita kelaparan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah kekurangan pangan tidak sedikit yang melanda para petani yang merupakan pahlawan penghasil pangan. Maka dari itu, tuntutan terhadap peningkatan produktifitas petani selayaknya harus seimbang dengan kesejahteraan petani.  
Permasalahan pangan lainnya terjadi seiring dengan kelaparan diantaranya kerawanan pangan yang mulai timbul. Berdasarkan data yang dianalisis Dewan Ketahanan Pangan (DKP), dari 346 kabupaten terdapat 100 kabupaten yang memiliki tingkat resiko kerentanan pangan yang tinggi dan memerlukan skala prioritas penanganan. Wilayah dengan kerentanan pangan yang tinggi tersebut tersebar di daerah Papua, NTB, NTT, NAD, Kalimantan, dan Sulawesi dengan total jumlah penduduk melebihi 20 juta jiwa.
Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kerawanan pangan di negara kita. Salah satunya dikarenakan konversi lahan pertanian yang tinggi dan tingkat pertumbuhan penduduk yang hampir tidak terkendali. Jumlah yang sangat besar ini sepertinya tidak diimbangi dengan kemampuan lahan pertanian di indonesia. Konversi besar-besaran lahan pertanian ke non pertanian menambah buruk kondisi pangan di Indonesia. Misalnya seperti mengkonversi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman yang akhirnya menjadikan lahan pertanian semakin sempit. Lambat laun kesulitan pangan mulai dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat miskinpun menjadi semakin merasakan kesulitan akibat adanya masalah keterbasan lahan pertanian tersebut.
Sebenarnya tidak ada yang mutlak untuk disalahkan dengan terjadinya berbagai permasalahan pangan di negara kita, namun ada yang harus diperbaiki dari sistem yang sudah berjalan selama ini. Kerawanan pangan merupakan masalah bersama sehingga diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk mengatasi masalah kerawanan pangan yang terjadi. Hal ini lebih ditekankan kepada pemerintah daerah karena pemerintah daerah lebih tau keadaan pangan dan potensi lahan di daerah masing-masing, baik itu makanan pokok sehari-hari maupun komoditi unggulan daerahnya tersebut. Dengan menegaskan kembali UU Tata Ruang untuk pembangunan berkelanjutan maka lahan produktif akan terus bertahan untuk menghasilkan pangan.
Sampai saat ini masyarakat membutuhkan bukan hanya solusi teoritis dari pemerintah melainkan solusi praktis yang solutif sehingga masalah kerawanan pangan segera terselesaikan demi kebaikan anak cucu pewaris bangsa di masa depan. Dengan terjaminnya pangan bagi masyarakat akan mencerminkan bahwa Indonesia benar-benar merupakan negara agraris dan bukan hal yang tidak mungkin jika Indonesia akan menjadi negara terkuat di dunia dalam aspek stabilitas pangan. Pembangunan pertanian harus mengantisipasi tantangan demokratisasi dan globalisasi untuk dapat menciptakan sistem yang berkeadilan. Jadi poin terpenting dalam pembangunan pertanian harus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, khususnya petani melalui pembangunan sistem pertanian dan usaha pertanian yang kuat dan mapan. Dimana sistem tersebut harus dapat berdaya saing, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
Peran mahasiswa juga sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan pertanian melalui pelaksanaan bimbingan kelompok tani, peningkatan daya saing mahasiswa dalam kewirausahaan di bidang pertanian, serta pendampingan untuk berbagai program mahasiswa berbasis pengabdian masyarakat di bidang pertanian. Sehingga melalui pendampingan petani, mahasiswa tidak hanya bisa mendapatkan ilmu dari bangku kuliah tetapi juga bisa menerapkan ilmu yang mereka miliki di dunia kemasyarakatan.

      

Minggu, 01 Juli 2012

patahan lembang


Patahan Lembang merupakan retakan sepanjang 22 kilometer, melintang dari timur ke barat. Berawal di kaki Gunung Manglayang di sebelah timur dan menghilang sebelum kawasan perbukitan kapur Padalarang di bagian barat. Patahan itu tepat di antara Gunung Tangkubanparahu dan dataran Bandung sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan. Secara genetic sesar ini dikenal dengan sesar nomal, dimana blok disebelah utara yang bertindak sebagai hanging wallnya, relatif lebih turun dibandingkan dengan blok yang berada disebelah selatan, yang merupakan foot wallnya. 
Namun gambar di atas merupakan gambar tebing patahan yang tepatnya terletak di Lembang, bagian utara kota Bandung. Tebing ini terletak di kompleks pegunungan Sunda, yang terdiri dari gunung tangkuban parahu, gunung manglayang, gunung sunda, dan gunung burangrang. Keterbentukan sesar ini menurut Van Bemmelen 1949 akibat dari amblasan yang merupakan efek dari kosongnya ruang magma pada saat letusan besar  Gunung sunda,  dan berarti umur dari sesar ini lebih muda dari umur endapan sunda yang dihasilkan.
            Awalnya, lava letusan gunung api yang merupakan bagian dari kompleks gunung api sunda mengalir jauh hingga mengisi suatu lembah. Lava yang mengalir tersebut memiliki tipe aliran lava prismatik kemudian lava tersebut mengalami pembekuan perlahan. Lava tersebut merupakan lava basaltik yang encer. Setelah beberapa lama seiring dengan berjalannya waktu, pembekuan lava telah mencapai pada kondisi stabil dengan terbentuknya batuan besar. Setelah mengalami pembekuan, sekitar 2.000 tahun lalu terjadi gempa dengan kekuatan 6 hingga 7 skala Richter. Gempa tersebut menyebabkan pengangkatan batuan besar tersebut muncul ke permukaan dan membentuk kubah lava. Pengangkatan ini diikuti dengan penurunan tanah yang ada di sekitarnya.
            Dengan proses pengangkatan, kubah lava yang telah memadat tersebut menjadi tebing batuan karena letaknya yang lebih tinggi dari dataran di bawahnya. Seiring dengan berjalannya waktu terjadi proses erosi dari air hujan yang mengikis dinding-dinding batuan secara terus menerus sehingga menyebabkan dinding tebing tidak rata. Di atas tebing ditumbuhi vegetasi berupa rerumputan dan berbagi tumbuhan serta daerah bawah tebing memiliki tanah yang cukup subur ditandai dengan tumbuhnya berbagai macam tanaman sayuran. Hal ini dikarenakan tanah yang terbentuk berasal dari aliran lava gunung berapi yang memiliki potensi kesuburan yang tinggi.
Tebing ini berumur relatif muda bila dibandingkan dengan gunung api di sekitarnya yang terbentuk lebih dulu sekitar puluhan ribu tahun lalu. Patahan ini mengalami pergeseran 4mm hingga 6 mm per tahun. Akibat pergerakan ini sangat memungkinkan untuk terjadinya gempa. Berdasarkan GPS, tebing patahan Lembang ini terletak di koordinat South 06’49’44.3 dan koordinat East 107’38’06.2 dengan Elevasi Point sebesar 3m dan Eror sebesar 1279m. Daerah di sekitar tebing patahan Lembang ini memiliki landuse sebagai pemukiman warga dan perkebunan. Daerah lain yang juga dilintasi Sesar Lembang adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu & Gunung Lembang, Cihideung, dan Jambudipa bagian barat. Wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang padat dan dapat berpotensi membahayakan.