PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengembangan
kelapa sawit (oil palm) dan minyak
kelapa sawit (crude palm oil–CPO) di
Indonesia dan Malaysia telah mampu merubah peta perminyakan nabati dunia dalam
waktu singkat. Pada tahun 1985, produksi minyak sawit Indonesia baru mencapai
1.3 juta ton. Namun, pada tahun 2006 telah mencapai 14.7 juta ton CPO, dan pada
tahun 2007 produksi CPO Indonesia telah melampaui total produksi CPO Malaysia.
Saat ini Indonesia dan Malaysia menghasilkan 83% dari total produksi minyak
kelapa sawit dunia dan menguasai 89% ekspor global. Permintaan minyak kelapa
sawit dunia terus mengalami peningkatan. Tingginya permintaan minyak
kelapa sawit ini terjadi karena banyaknya produk yang dihasilkan dengan
menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit. Sampai saat ini kelapa sawit masih
menjadi sektor industri perkebunan utama di Indonesia, namun seiring dengan
semakin maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit tidak sedikit pula
penyakit yang menyerang tanaman kelapa sawit itu sendiri. Hal tersebut
menyebabkan terganggunya sistem pertumbuhan dan perkembangan pada kelapa sawit yang
berimbas pada potensi kerugian berupa penurunan kualitas dan kuantitas hasil
serta penambahan biaya perawatan, sehingga mengurangi keuntungan hasil produksi
yang seharusnya dihasilkan.
Diantara
beberapa penyakit yang menyerang kelapa sawit, penyakit blas merupakan penyakit
akar yang membahayakan karena membuat pertumbuhan tanaman kelapa sawit menjadi
tidak normal. Hal tersebut mengakibatkan kualitas buah kelapa sawit yang
dihasilkan tidak memuaskan. Untuk mengatasi penyakit akar tersebut diperlukan
pengolahan lahan yang tepat dan irigasi yang cukup sehingga jamur Rhizoctonia
lamellifera
dan Phytium sp yang merupakan
penyebab penyakit blast tidak mudah menyerang akar tanaman kelapa sawit.
Tujuan
Tujuan
disusunnya paper ini adalah untuk mengetahui metode pengolahan lahan yang tepat
untuk mencegah penyakit blast pada tanaman kelapa sawit.
PEMBAHASAN
Sebagaimana yang
dibudidayakan, ada beberapa tahapan budidaya yaitu pembukaan lahan, pembibitan,
membuat rancangan kebun, penanaman bibit kelapa sawit ke lapangan, penanaman
tanaman penutup tanah dan pemeliharaan tanaman baik yang belum menghasilkan
(TBM) dan tanaman yang sudah menghasilkan (TM). Sistem
pembibitan untuk sekarang ini dilakukan dengan 2 cara yaitu pembibitan dengan
dua tahap dan pembibitan dengan satu tahap. Pembibitan 2 tahap terdiri dari
pembibitan awal (pre nursery) mulai dari perkecambahan sampai bibit berumur
2,5-3 bulan dan pembibitan utama (main nursery) setelah dipindahkan dari
pembibitan awal sampai dipindahkan kelapangan dimana bibit berumur 10-12 bulan
namun optimalnya pada umur 12-14 bulan. Sedangkan yang satu tahap mulai dari awal
pembibitan sampai bibit bisa dipindahkan ke lapangan tetap pada tempat yang
sama.
Pada pembibitan awal (pre nursery) bibit
tanaman banyak yang terinfeksi oleh patogen. Salah satunya adalah jamur Phytium
sp dan Rhizoctonia sp penyebab penyakit blas pada bibit kelapa
sawit. Di Indonesia dan Malaysia penyakit ini meningkat meskipun tidak
menimbulkan banyak kerugian. Penyakit ini juga banyak terdapat diberbagai
Negara penghasil kelapa sawit seperti negara-negara di Afrika Barat dan
Selatan.
Meskipun Phytium
sp dan Rhizoctonia sp adalah jamur tanah yang terdapat
dimana-mana, namun penyakit hanya terjadi apabila tanah disekitar pembibitan
menjadi kering dan panas. Sering kali penyakit justru semakin meningkat pada
musim kemarau jika penyiraman persemaian kurang cukup. Apabila lengas tanah
berada 10% dibawah kapasitas menahan air dan suhu tanah tinggi, keadaan seperti
ini sangat optimal bagi serangan jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp dapat
aktif dalam keadaan lingkungan yang sangat berbeda-beda (Sastroyono, 2003).
Penyakit blas ini berkembang pesat pada
musim kemarau karena pada saat musim kemarau air tidak cukup tersedia bagi
bibit dibandingkan dengan musim hujan. Sehingga jamur Phytium sp dan Rhizoctonia
sp yang merupakan patogen dengan mudahnya menginfeksi bibit tanaman kelapa
sawit. Gejala penyakit
ini ditandai dengan daun bibit menjadi buram tidak mengkilat seperti biasanya,
sedikit lemas, warnanya berubah dari hijau agak kecokelatan menjadi kuning
cerah, dengan becak-becak jaringan mati (nekrotik) yang berwarna keunguan. Sedikit demi sedikit daun menjadi
cokelat dan rapuh, seperti habis terjilat api (Blasted by Fire). Gejala mulai
nampak pada daun tua, meskipun kadang-kadang pada waktu yang bersamaan pupus
juga membusuk.
Gejala
utama terdapat pada akar. Akar sakit terasa lunak jika dipegang. Jika dibelah
akan kelihatan bahwa jaringan antara berkas pembuluh pusat dan hipodermis akan
hancur sehingga stek berada lepas di dalam tabung hipodermis. Jika bibit
dicabut, sisa hipodermis tertinggal dalam tanah. Blas disebabkan oleh gabungan
dua macam jamur dalam tanah. Yaitu Phythium dan Rhizoctonia. Kedua
jamur ini menginfeksi dengan cara yang berbeda, Phytium dapat
langsung menginfeksi melalui ujung-ujung akar. Rhizoctonia yang
tidak mengadakan infeksi dengan menembus jaringan yang utuh, tapi masuk melalui
ujung akar yang telah terinfeksi oleh Phytium sp, lalu menghancurkan
jaringan kulit akar. Phytium sp menghasilkan toksin yang terangkut
kedaun-daun yang yang antara lain menyebabkan timbulnya gejala pada daun.
Walaupun penyakit ini tidak tergolong
penyakit penting pada bibit kelapa sawit tapi keberadaannya cukup menimbulkan
kerugian yang cukup berarti sebesar 25%. Untuk itu penyakit ini perlu
dikendalikan dengan penyiraman yang teratur minimal air yang ditambahkan
kedalam polibag adalah 364 ml air yaitu kelembaban 50%. Penyakit Blas sering timbul di
lapang pada bibit yang dipindah selama masa kering. Bibit yang kekurangan unsur
hara akan lebih rentan terhadap penyakit ini. Sehingga pengolahan lahan tepat
perlu dilakukan pada tahap persemaian. Dengan tersedianya unsur hara dalam
jumlah yang cukup, maka akar akan mudah menyerap unsur hara dan bibit akan
tumbuh sehat. Selain itu pengairan yang cukup saat musim kemarau sangat
diperlukan untuk mencegah munculnya penyakit blas (Semangun, 2000).
Setiap
tanaman termasuk kelapa sawit memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk
dapat tumbuh dengan optimal baik pertumbuhan vegetatif maupun generatif.
Pengetahuan terhadap faktor-faktor lingkungan yang optimum untuk mendukung
pertumbuhan tanaman merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum
melakukan langkah investasi di bidang
agibisnis. Syarat tumbuh untuk setiap tanaman termasuk kelapa sawit
selalu terkait dengan dua aspek utama, yaitu iklim dan tanah. Bila kondisi
iklim dan tanah sesuai yang dibutuhkan maka akan mengurangi resiko serangan
penyakit pada kelapa sawit.
Iklim yang sesuai untuk hidup kelapa sawit
yaitu iklim tropika basah terutama pada kawasan khatulistiwa. Kelapa sawit
merupakan tanaman tropis sehingga menghendaki temperatur yang hangat sepanjang
tahun kisaran optimal 24 - 28°C, curah hujan rata-rata sekitar 2.500 mm/tahun,
kelembaban udara 80%, dan penyinaran matahari 5 – 7 jan per hari. Dari beberapa
parameter tersebut dapat diketahui bahwa Indonesia memenuhi semua aspek iklim
yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit.
Syarat
pertumbuhan berikutnya yaitu tanah. Kelapa sawit termasuk dalam sedikit
kelompok spesies tanaman yang dapat dibudidayakan dengan baik di tanah mineral
maupun di tanah gambut. Dengan demikian, spektrum jenis tanah yang sesuai untuk
kelapa sawit cukup lebar dan dapat mencakup beragam jenis tanah. Meskipun
demikian, faktor-faktor pembatas terkait dengan tanah tetap harus menjadi
perhatian sebelum memutuskan investasi di bidang perkebunan kelapa sawit.
Pada
tanah mineral, beberapa jenis tanah yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit
diantaranya Ultisol, Inceptisol, Entisol, Andisol, maupun Oxisol. Meskipun
demikian, identifikasi sifat fisik dan kimia tanah berikut karakteristik lahan
tetap menjadi kunci utama sebelum memutuskan berinvestasi di bidang kelapa
sawit pada jenis-jenis tanah tersebut. Beberapa sifat fisik tanah dan lahan
yang perlu diperhatikan pada tanah mineral adalah solum yang tebal, dominan
lempung, tekstur tanah yang optimal, aerasi dan drainase yang baik untuk
menjamin respirasi akar, topografi yang tidak terlalu ekstrim. Untuk sifat
kimia tanah, pH tanah dan ketersediaan hara merupakan faktor penentu
keberhasilan budidaya kelapa sawit. pH optimal untuk kelapa sawit adalah 5 –
5.5. Pada kisaran pH tersebut ketersediaan hara makro yang dibutuhkan tanaman
seperti P, Ca, dan Mg tersedia dalam jumlah yang cukup.
Kondisi
iklim dan tanah yang sesuai untuk budidaya kelapa sawit belum sepenuhnya
menjamin akan produksi kelapa sawit yang maksimal. Hal ini dikarenakan adanya beberapa
penyakit yang bisa menyerang tanaman kelapa sawit, dan salah satu yang cukup berbahaya
adalah penyakit blast pada akar kelapa sawit.
Baik
pengolahan lahan maupun pengairan yang cukup merupakan dua upaya yang saling
berkaitan. Pengolahan lahan bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar
tidak terlalu kasar dan tidak terlalu halus. Struktur tanah terbentuk
berdasarkan tekstur yang terkandung dalam tanah. Tanah bertekstur pasir ini
menyebabkan air susah tersimpan dalam tanah sehingga air mudah terdrainase
sehingga tanaman kekurangan air tersedia. Menurut Supardi (1983), golongan
pasir mengandung lebih dari 70% pisahan pasir. Sifat tanah semacam ini sangat lepas
dan tidak lekat, sehingga sangat mudah melalukan air. Sedangkan tanah yang
berstruktur halus atau liat mengandung lebihd ari 35% pisahan liat. Tanah
bertekstur liat ini memudahkan air tersimpan dalam tanah sehingga mudah
tergenang. Hal tersebut mengakibatkan pori dalam tanah penuh dengan air
sehingga menghambat aliran udara dalam tanah. Tanah yang ideal untuk perkebunan
kelapa sawit yaitu tanah dengan tekstur lempung. Lempung merupakan tanah yang
mengandung kombinasi pasir, debu, dan liat yang memperlihatkan sifat-sifat yang
ringan dan berat dalam perbandingan yang sama.
Pengolahan
tanah merupakan langkah awal dalam persiapan lahan perkebunan kelapa sawit.
Baik tanah mineral maupun tanah gambut atau tanah organik bisa digunakan untuk
lahan perkebunan, tetapi dua jenis tanah tersebut berbeda cara pengolahannya
karena sifat fisik dan kimia keduanya berbeda. Untuk tanah mineral, pengolahan
tanah dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis. Cara manual hanya
dapat dilaksanakan jika tenaga kerja banyak tersedia, serta keadaan topografi
yang tidak memungkinkan untuk dilakukan secara mekanis. Peralatan yang dipakai antara
lai cangkul, sekop, dan parang. Persiapan lahan secara mekanis dapat
dilaksanakan sebagai berikut :
-
Pembabatan
dan pembakaran.
-
Pembajakan
I, dan setelah 21 hari dilakukan pembajakan II.
-
Penggaruan
I, dan setelah 21 hari dilakukan penggaruan II.
-
Interval
pelaksanaan pembajakan maupun pengaruan adalah 21hari dengan arah pembajakan
dan penggaruan membentuk sudut 45°. Ini bertujuan agar gulma dan alang-alang
ikut diberantas sampai akar dan rimpang-rimpangnya.
Untuk
tanah gambut, persiapan lahan harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi
setempat. Pola tata saluran air (drainase) harus diperhatikan. Ada dua sistem
tata saluran air, yakni sistem tata saluran air tradisional dan sistem tata
saluran air baru. Sistem tata saluran air tradisional terdiri atas empat jenis
saluran yakni sungai, parit kongsi, parit induk, dan parit anakan yang
dilengkapi dengan tangul pengaman air pasang dan pintu air yang disesuaikan
dengan kebutuhan. Tujuan pembuatan saluran drainase adalah untuk menurunkan
permukaan air tanah, sehingga akar tanaman kelapa sawit dapat berkembang dan
menyerap nutrisi dengan baik.
Selain saluran
drainase, sistem saluran irigasi yang menyuplai air bagi tanaman juga perlu
diperhatikan tata letak dan kegunaannya. Hal ini dikarenakan ketersediaan air
merupakan salah satu faktor pembatas utama bagi produksi kelapa sawit.
Kekeringan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan distribusi asimilat
terganggu, berdampak negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif
maupun fase generatif. Pada fase vegetatif kekeringan pada tanaman kelapa sawit
ditandai oleh kondisi daun tombak tidak membuka dan terhambatnya pertumbuhan
pelepah. Pada keadaan yang lebih parah kekurangan air menyebabkan kerusakan
jaringan tanaman yang dicerminkan oleh daun pucuk dan pelepah yang mudah patah.
Pada fase generatif kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan produksi
tanaman akibat terhambatnya pembentukan bunga, meningkatnya jumlah bunga
jantan, pembuahan terganggu, gugur buah muda, bentuk buah kecil dan rendemen
minyak buah rendah.
Pembangunan jaringan
irigasi dilakukan dengan memanfaatkan sumber air dari dam parit yang telah
dibangun pada tahun sebelumnya dengan membangun jaringan irigasi tertutup
sampai dengan bak pembagi. Pemberian irigasi suplementer dilakukan pada pada
saat terjadi defisit air, maka dari bak pembagi dibuat jaringan irigasi tidak
permanen dengan menggunakan selang. Untuk mengairi areal pertanaman yang
posisinya terletak lebih tinggi digunakan pompa untuk mengangkat air sampai bak
pembagi kemudian dilanjutkan dengan sistem gravitasi. Sedangkan untuk irigasi
pertanaman kelapa sawit yang posisinya lebih rendah dari sumber air maka distribusi
air sampai dengan bak pembagi maupun ke pertanaman dilakukan dengan sistem
gravitasi.
Dengan
irigasi yang baik maka kondisi tanah akan terjaga kelembabannya dan kebutuhan
tanaman akan air bisa tercukupi. Jika
kandungan air di dalam tanah rendah (kering) maka pH tanah akan turun dan
kandungan unsur hara didalam tanah akan ikut menurun dan sipat ketahanan bibit
tanaman akan menurun sehingga memudahkan bagi kedua jamur penyakit blast Phytium
sp
dan Rhizoctonia sp
ini melakukan infeksi. Selain itu bibit tanaman akan merana dan lama kelamaan
tanaman akan terhenti pertumbuhannya dan mati.
Pengendaliannya
dengan mengusahakan agar tanah dalam kantong plastik di pembibitan tidak
menjadi kering dan panas. Pembibitan dibuat di tempat yang mempunyai air yang
cukup. Bibit disiram dengaan irigasi curah yang airnya dapat mencapai semua
bibit. Penyiraman yang cukup sekaligus akan menghindarkan kekeringan dan
meningkatnya suhu tanah. Untuk pengisi kantong plastik jangan dipakai tanah
yang mudah kering. Pra pembibitan, jika diperlukan, diberi peteduh yang cukup.
Penyiraman disini dilakukan dengan menyemperot secara hati-hati. Mengusahakan
agar bibit di pembibitan tumbuh dengan baik agar menjadi lebih tahan terhadap
penyakit Blas. Jika mungkin, diusahakan agar pada waktu musim kering tiba bibit
sudah melewati masa rentannya (umur 6-8 bulan). Jangan memindahkan bibit ke
lapang jika keadaan sangat kering. Kecuali jika terdapat cukup air yang dapat
diangkut ke lapang untuk menyiramnya.
KESIMPULAN
1.
Gejala
yang ditimbulkan dari serangan jamur Phytium sp dan Rhizoctonia sp
daun berubah warna dari warna hijau kecoklatan dan menyebar keseluruh permukaan
daun dan ada yang kecoklatan menjadi kuning cerah dengan bercak-bercak jaringan
mati.
2.
Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi penyakit blas yaitu
dengan pengolahan lahan dan mempertahankan kelembaban tanah dengan sistem
irigasi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2006. Potensi dan Peluang Investasi dan Industri Kelapa Sawit di Indonesia. Medan:
Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Anonim.
2007. Pengelolaan Air untuk Ketersediaan Air Tanaman Kelapa Sawit. Bogor: Balai
Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.
Mangoensoekarjo,
S. 2007. Manajemen Tanah dan Pemupukan Budidaya Perkebunan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Sastrosayono, S. 2003. Budi Daya Kelapa Sawit. Penerbit:
Agromedia Pustaka. Jakarta.
Sanchez,
P. 1993. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika. Bandung: Penerbit ITB.
Semangun, H. 2000. Penyakit-Penyakit
Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press.
Susanto,
A. 2005. Pemeliharaan Kesehatan Kelapa Sawit Melalui Pengendalian Terkini Hama
dan Penyakit. Medan: Pusat Penelitian Kelapa Sawit.